Jelang Aksi Bela ISLAM III, Belajar dari Kafilah Ciamis


Ketika semua PO. Bus dilarang membawa peserta aksi, mereka tak patah arang. Semangat mereka tetap membara. Tak ada Bus, maka jalan kaki pun menjadi solusi. Demi membela agama Allah, demi membela Rasullah, demi membela alquran mereka rela berpanas panasan dan bercucuran keringat. Mungkin Pengorbanana mereka akan jauh lebih besar apabila kesabaran mereka para mujahid dari ciawi sudah memuncak bahkan nyawa pun akan di korbankan.

Aksi jalan kaki menuju Jakarta ini membuka mata semua pihak. Membuat tersentak semua orang. Menyadarkan para pembuat kebijakan bahwa ternyata arus itu begitu besar dan tak mungkin dibendung lagi. Bagi pelindung dan pembela si penista Agama tak ada kata yang bisa untuk mengelak dan menutupi nutupi si mulut jamban ini. Bahkan fitnah si penista agama yang begitu keji bahwa para mujahid ini di bayar itu juga harus di proses secara hukum. Bagaimana mereka di bayar dan berapa bayarannya untuk ribuan umat islam yang dengan ikhlas mengeluarkan harta benda sendiri, meninggalkan anak istri demi menjaga dan membela Islam.
 
Setelah kafilah para Mujahid Ciamis itu berangkat, tak berapa lama kemudian Kapolri mencabut larangan PO Bus utk mengangkut para mujahid itu. Sungguh ancaman yang tak membuat gentar para mujahid dari ciamis ini. Jangan di larang menggunakan Bus, Di hadang Tank tank pun insya allah mereka akan melawan.

Kemudian berbagai bus yang tadinya menolak, akhirnya menjemput para peserta aksi damai 212 itu.

Tercatat PO. Budiman, PO Doa Ibu, PO Merdeka, PO Aladin, TNI dll menjemput para peserta aksi itu utk pulang kembali ke Ciamis dulu. Dan sbg bentuk permintaan maaf, mereka berjanji akan mengantarkan para peserta aksi itu ke Jakarta secara gratis. Mereka berencana berangkat ke Jakarta pada hari Kamis siang.

Masya Alloh, kisah yg indah sekali, happy ending....

Ibrah yg sangat berharga. Bahwa kewajiban kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Perkara hasil, maka Alloh-lah yg menentukan. Usaha kita sementara adalah menunutut agar keadilan tegak di NKRI. Dan Umat Islam sudah berkomitmen tidak ada tempat bagi penista dan penghina agama. Baik itu menistakan agama kristen, budha, hindu dan islam maka wajib untuk di hukum dan di masukan dalam penjara.

Semoga pahala senantiasa terlimpah mengalir untuk para kafilah Ciamis. Berkat perjuangan mereka, akhirnya daerah lain bisa menggunakan bus, alhamdulillah....

Intanshurulloha yansurkum wayutsabit aqdamakum.
Jika engkau menolong agama Alloh, niscaya Alloh akan menolongmu. Dan akan meneguhkan kedudukanmu di muka bumi.

Related Posts:

Perjalanan Panjang Kehidupan Manusia di Tujuh Alam



Dalam perjalanan hidupnya manusia akan melalui 7 tahap perjalanan hingga akhirnya mendapat kemenangan bertemu dengan Allah di surga atau terpuruk dilembah neraka. Tiap tahap ditempuh dalam waktu yang berbeda mulai dari hitungan beberapa bulan hingga ribuan tahun. Inilah ketujuh alam yang telah, sedang dan akan dilalui oleh setiap manusia.

Related Posts:

Keindahan Masjid UMMAYAD - DAMASKUS ( SURIAH )

Keagungan masjid dan situs situs sejarah di kota negeri para ulama kini luluh lantah oleh konflik berkepanjangan, dan pelak lagi korban yang paling banyak dan menderita adalah rakyat kecil. Dan keberadaan situs situs Semisal Masjid adalah suatu keharusan karena masjid bukan di miliki oleh umat islam di suriah tetapi umat islam di seluruh dunia.

Masjid Ummayad adalah simbol religi di kota damaskus dan kota para ulama ini. masjid yang sudah berdiri megah memiliki sejarah yang sangat banyak. Bangunan masjid pada awal nya di gunakan oleh suku atau bangsa ARAM. Di mana Bangsa aram adalah penyembah Dewa semitik Hadad Yaitu dewa bangsa arab kuno sejak 3000 Tahun sebelum Masehi.

Diawal masehi Tempat ini berubah kembali menjadi tempat penyembahan dewa Jupiter pada zaman Romawi. Dan pada perkembangan Agama Kristen pada abad 4 Masehi di damaskus tempat ini berubah menjadi sebuah gereja. Dan nama Gereja tersebut adalah ST. John the Baptist Basilica. Dan Nama John the Baptist adalah Nabi yahya As. Nabi umat islam.

600 Tahun kemudian Islam memasuki Kota Damaskus dan Islam menduduki Damaskus dengan sepenuhnya. Saat itu bangunan Masjid Ummayad di bagi dua peruntukannya. Sebelah sisi timur adalah Masjid dan di sebuah barat di peruntukan gereja. Di bolehkannya kristen bisa menggunakan fasilitas tersebut karena islam adalah agama yang mencintai alam semesta. Agama yang cinta damai dan menghargai perbedaan.

Disaat Umat islam mengumandangkan adzan dan umat kristen membunyikan lonceng dan kondisi ini berlangsung cukup lama. Pada tahun 705 Masehi oleh pemerintahan islam saat itu kebutuhan akan masjid yang besar menjadi pertimbangan. Dan karena toleransinya umat islam maka umat kristen di ajak untuk berdiskusi dan bermusyawarah. Tidak mentang mentang sebagai penguasa langsung main usir atau main gusur. Islam masih mengedepankan Etika dan rasa sling menghormati.

Maka akibat pertemuan tersebut akhirnya umat kristen meninggalkan Bangunan masjid ummayad dan sebagai gantinya mereka di perbolehkan untuk memebangun gereja dimana pun dan sebesar apapun. Saat itu terjadi damaskus di bawah khalifah AL walid Bin Abdul Malik. Pembangunan masjid  yang megah dan besar memakan waktu sampai 10 tahun. Dan Masjid ini berukuran panjang 150 meter dan lebar 100 meter. 

Kekuasaan dinasti  Abbasiyah atas Suriah mulai runtuh pada awal abad ke-10, dan dalam dekade berikutnya, dikuasai oleh dinasti Fatimiyah Mesir, yang menganut  Syiah,  yang menaklukkan Damaskus pada 970M,  Keberadaan Masjid Umayyah memungkinkan penduduk Damaskus untuk menjadikannya sebagai pusat intelektualisme Sunni, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan kemerdekaan Islam  dari otoritas keagamaan Syiah Fatimiyah .Pada tahun 1069, sebagian besar dari masjid, khususnya dinding utara, hancur. dalam kebakaran sebagai akibat dari pemberontakan oleh warga muslim  terhadap Syiah Fatimiyah dengan kekuatan tentaranya. Muslim Sunni dari Seljuk Turki kembali menguasai kota Damaskus pada tahun 1078 M dan mengembalikan aturan kekhalifahan Abbasiyah. Raja Seljuk  Tutush ( 1079-1095) memprakarsai perbaikan kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran di tahun 1069M.

Pada tahun 1082, Abu Nasr Ahmad bin Fadl, membangun pusat kubah dan  dikembalikan dalam bentuk yang lebih spektakuler;.Pada tahun 1113M , Sharaf al-Din Mawdud (1109-1113), terbunuh di Masjid Umayyah,  sebagai konflik antara muslim Damaskus dan Tentara Salib yang bertempur sengit di pertengahan 1100-an, masjid ini digunakan sebagai titik kumpul utama untuk menyerukan umat Islam mempertahankan kota Yerusalem dan agar kembali ke tangan Islam. Imam terkemuka, termasuk Ibnu ‘Asakir, mengobarkan jihad (“perjuangan suci”) dan ketika Tentara Salib maju ke arah Damaskus tahun 1148, penduduk kota bergerak akan panggilan jihad,. Tentara Salib mundur sebagai akibat dari perlawanan mereka.

entara Mongol, di bawah kepemimpinan Kitbuqa, yang berkomplot dengan pasukan Tentara Salib, merebut Damaskus dari Ayyubiyah di 1260. Bohemond VI dari Antiokhia, seorang jenderal terkemuka di invasi tersebut , memerintahkan Misa Katolik diadakan di Masjid Umayyah [36] Namun, kerajaan Mamluk, yang dipimpin oleh Qutuz dan Baibars, berhasil merebut kendali atas kota Damaskus di tahun yang sama.Pada 1285, salah seorang sarjana Muslim terkemuka ,  Ibn Taimiyah mulai mengajar tafsir Qur’an di masjid. Ketika Mongol Il-Khan  menyerang kota itu pada 1300, Ibn Taymiyyah mengobarkan jihad, serukan warga Damaskus untuk melawan  mereka. Akhirnya dinasti Mamluk di bawah Qalawun berhasil mengusir Mongol pada  akhir tahun itu juga.

Dan menurut sejarah juga di masjid inilah akan di jadikan tempat turunnya Nabi Isa As. Sabagi petanda bahwa Kiamat akan segera mendekat.

Related Posts:

Imam Ibnu Qudamah sahabat salahuddin penakluk yerusalem

Salahudin Al Ayyubi
Kemasyhuran salahudin al-Ayyubi penakluk yerusalem, menumpas tentara salib dan membersihkan bumi quds dari najis dan kotopran mereka sudah sangatlah terkenal. Tetapi di balik sebaik baiknya kepemimpinan salahuddin al Ayyubi ada salah satu sahabatnya dan mujahid yang sangat termasyur juga di bidang ilmu fiqih. Bahkan Syaikhul islam ibnu taimiyah berkata " Setelah al-auza'i, tidak ada orang yang masuk ke negeri syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al- Muwaffaq" 

Yah nama Beliau adalah Imam - Muwaffaqiq atau imam ibnu qudammah yang merupakan juga salah satu murid dari imam syaikh Abdul qodir jaelani rahimahullah di Baghdad. Beliau berhijrah ke lereng bukit Ash- Shaliya di damaskus saat menjelang kelahiran beliau. Ayahnya seorang yang tinggal di palestina di karenakan palestina di kuasai oleh orang kafir nasrani sehingga beliau akhirnya berhijrah. Disaat masa hijrahnya itulah sang imam ibnu qudamah belajar ilmu ilmu dasar dan menghafal alquran. Beliau juga hapal tentang kitab Mukhtasar Al khiraqi ( Fiqih Madzab Imam ahmad bin hambali ) dan kitab kitab lainnya.
 
Disaat beliau belajar bersama syekh abdul qodir jaelani, saat itu syekh berumur 90 tahun. Imam ibnu qudamah kembali mempelajari secara teliti dan mendalam kitab fiqih mukhtasar Al khiraqi. Dan di saat wafat nya syekh abdul kodir, Imam Qudamah masih menjadi muridnya. Beliau tinggal di Baghdad selama 4 tahun dan beliau masih mengaji tentang hukum fiqih. Selain itu Beliau juga mengaji ilmu hadist selama setahun setelah beliau pulang ke damaskus dan kembali ke Baghdad. Beliau berguru langsung dengan sanadnya dari ABdul fath Ibn Al manni. Dan setelah setahun beliau kembali lagi ke damaskus.

Beliau Mengikuti jejak As salaf dalam masalah aqidah, Kezuhudan, dan ke wara'an. Beliau sangat pemalu dan menjauh dari gemerlapnya dunia. Belaiau sosok yang pemaaaf tetapi beliau juga seorang mujahid sejati. beliau tidak ingin agama nya di hina dan di lecehkan. Belaiu bisa menjadi macan yang garang di saat di medan perang. Dan beliau adalah salah satu teman dari sebaik- sebaiknya seorang pemimpin dan beliau hidup di sebaik baiknya suatu kaum.

Imam Ibunu Qudamah wafat pada hari sabtu, tepat dimana umat islam merayakan kemenangan di idul fitri tahun 629 Hijriyah. Beliau dimakamkan di kaki gunung qasiun di shalihiya, Di  sebuah lereng di atas masjid jami terbesar opengikut mazhab hambali " Jami Al Hanabilah ". Beliau meninggalkan suatu karya besar tentang ilmu fiqih madzab hambali dengan nama kitab Al Mughni syarh Mukhtasar Al Khiraqi. Semoga beliau di tempat kan di surganya ALLAH. Amin
 



Related Posts:

Perjalanan hidup Menuju Kehidupan

Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu.

Al-Qur’an diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. berfungsi untuk memberikan pedoman bagi umat manusia tentang perjalanan (rihlah) tersebut. Suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia, tanpa kecuali. Manusia yang diciptakan Allah swt. dari tidak ada menjadi ada akan terus mengalami proses panjang sesuai rencana yang telah ditetapkan Allah swt.


Saat ini ada dua teori yang menyesatkan orang banyak. Al-Qur’an dengan tegas membantah teori itu. Pertama, teori yang mengatakan manusia ada dengan sendirinya. Dibantah Al-Qur’an dengan hujjah yang kuat, bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Allah swt. Kedua, teori yang mengatakan manusia ada dari proses evolusi panjang, yang bermula dari sebangsa kera kemudian berubah menjadi manusia. Teori ini pun dibantah dengan sangat pasti bahwa manusia pertama adalah Adam as. Kemudian selanjutkannya anak cucu Adam as. diciptakan Allah swt. dari jenis manusia itu sendiri yang berasal dari percampuran antara sperma lelaki dengan sel telur wanita, maka lahirlah manusia.

Rasulullah saw. semakin mengokohkan tentang kisah rihlatul insan. Disebutkan dalam beberapa haditsnya. “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari). Dalam hadits lain: ”Untuk apa dunia itu bagiku? Aku di dunia tidak lebih dari seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya” (HR At-Tirmidzi).

Alam Arwah
Manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. Setelah sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.

Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).

Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuanya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR bukhari)

Alam Rahim
Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah manusia ke dunia.

Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Seluruh manusia di dunia apapun kondisi sosialnya diingatkan tentang awal kejadiannya yang berasal dari benda yang hina, yaitu sperma lelaki dan sel telur wanita. Manusia sebelumnya belum dikenal, belum memiliki kemuliaan dan kehormatan. Lalu apakah manusia akan bangga, congkak, dan sombong dengan kondisi sosial yang dialami sekarang jika mengetahui asal muasal mereka?

Setelah mencapai 6 bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke dunia dalam keadaan telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.

Alam Dunia
Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tumbuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.

Di dunia inilah manusia bersama dengan jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu ibadah. Dan dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat dimensi; dimensi tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai sebuah kesempatan atau target waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.

Allah Ta’ala telah melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan ingkar terhadap pedoman hidup tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya ketimbang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

Maka, orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.

Dunia dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian bagi manusia. Apakah yang dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan Allah swt. atau menyimpang dari ajaran-Nya? Apakah segala fasilitas yang diperoleh manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau tidak? Dunia merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan sesaat. Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana hidup di dunia. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah saw. tidur diatas tikar, ketika bangun ada bekasnya. Maka kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur.” Rasululah saw. bersabda: “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Perjalanan hidup manusia di dunia akan berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati, apakah itu pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan meninggalkan segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal shalihnya berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Kematian bukanlah akhir kesudahan manusia, bukan pula tempat istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup berikutnya.

Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia. Utopia belaka. Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka atau tidak suka.

Alam Barzakh
Fase berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka tinggal sendiri. Yang akan menemaninya adalah amal mereka sendiri. Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan mengetahui nasibnya ketika mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli surga atau ahli neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa surga akan mereka rasakan. Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya neraka.

Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan Allah memerintahkan pada malaikat: “Catatlah kitab hambaku ke dalam ’illiyiin dan kembalikan kedunia.” Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan kuburnya, dan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik, dan aroma yang baik.
Lelaki itu adalah amal perbuatannya.

Alam Akhirat (Hari Akhir)
Dan rihlah berikutnya adalah kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya. Kehidupan hari akhir didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa kerusakan total seluruh alam semesta. Peristiwa setelah kiamat adalah mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam as. sampai manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Saat itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar satu mil, sehingga mengalirlah keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada, bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.

Dalam kondisi yang berat ini manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan dari kesulitan yang maha berat itu. Tetapi semuanya tidak ada yang dapat menolong. Dan terakhir, hanya Rasulullah saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan mahsyar. Rasulullah saw. sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan memuji-muji-Nya. Kemudian Allah swt. berfirman:
“Tegakkan kepalamu, mintalah niscaya dikabulkan. Mintalah syafaat, pasti diberikan.” Kemudian Rasululullah saw. mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Rabb, umatku.” Dan dikabulkanlah pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk kemudian melalui proses berikutnya.

Peristiwa berikutnya adalah hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi manusia. Ada yang mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan dengan sangat teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab yang mudah dan hanya sekadar formalitas. Bahkan sebagian kecil dari orang beriman bebas hisab.

Di antara pertanyaan yang akan diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan masalah prinsip dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan melangkah kaki anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya, dan apa yang diamalkan dari ilmunya.” (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga dilakukan proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang menzhalimi.

Kejadian selanjutnya manusia harus melalui shirath, yaitu sebuah jembatan yang sangat tipis dan mengerikan karena di bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati jembatan ini dari mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan manusia melewati jembatan itu sesuai dengan amalnya di dunia. Ada yang lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang lewat seperti kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi banyak juga yang berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka jahanam.

Bagi orang-orang yang beriman, akan minum telaga Rasulullah saw. yang disebut Al-Kautsar. Rasulullah saw. bersabda: “Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Surga dan Neraka
Pada fase yang terakhir dari rihlah manusia di hari akhir adalah sebagian mereka masuk surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan neraka tempat orang-orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah ada dan disediakan. Bahkan, surga sudah rindu pada penghuninya untuk siap menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan. Neraka pun sudah rindu dengan penghuninya dan siap menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan surga dan neraka secara detail. Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia tentang persinggahan akhir yang akan mereka diami.


Orang-orang kafir, baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik, jika meninggal dunia dan tidak bertobat, maka tempatnya adalah neraka. Neraka yang penuh dengan siksaan. Percikan apinya jika ditaruh di dunia dapat membakar semua penghuni dunia. Minuman penghuni neraka adalah nanah dan makanannya zaqum (buah berduri). Manusia di sana tidak hidup karena penderitaan yang luar biasa, dan juga tidak mati karena jika mati akan hilang penderitaannya. Di neraka manusia itu kekal abadi.

Orang-orang beriman akan mendapatkan surga dan kain sutra karena kesabaran mereka. Dalam surga mereka duduk-duduk bersandar di atas dipan, tidak merasakan panas teriknya matahari dan dingin yang sangat. Mereka dinaungi pohon-pohon surga dan buahnya sangat mudah untuk dipetik. Mereka juga mendapatkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala minuman yang sangat bening. Mereka akan minum minuman surga yang rasanya sangat nikmat seperti minuman jahe yang didatangkan dari mata air surga bernama Salsabila. Di surga juga ada banyak sungai yang berisi beraneka macam minuman, sungai mata air yang jernih, sungai susu, sungai khamr, dan sungai madu.

Penghuni surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang jika dilihat sangat indah bagaikan mutiara yang bertaburan. Surga yang penuh dengan kenikmatan dan kerajaan yang besar. Orang beriman di surga memakai pakaian sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal, juga memakai gelang terbuat dari perak dan emas. Allah swt. memberikan minuman kepada mereka minuman yang bersih.

Dan yang tidak kalah nikmatnya yaitu istri-istri dan bidadari surga. Mereka berwarna putih bersih berseri, bermata bulat, pandangannya pendek, selalu gadis sebaya belum pernah disentuh manusia dan jin. Buah dadanya montok dan segar, tidak mengalami haidh, nifas, dan buang kotoran.

Puncak dari semua kenikmatan di surga adalah melihat sang pencipta Allah yang Maha Indah, Sempurna, dan Perkasa. Sebagaimana manusia dapat melihat bulan secara serentak, begitu juga manusia akan memandang Allah secara serentak.
Indah, mempesona, takzim, dan suci. Allah Akbar.

Allah akan memasukkan hamba–Nya ke dalam surga dengan rahmat-Nya, dan surga adalah puncak dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala akan memasukan hamba-Nya ke dalam rahmat (surga) berdasarkan rahmat-Nya juga. Disebutkan dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin, manusia, dan binatang. Dengan itu mereka saling simpati dan kasih sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.” (Muttafaqun alaihi) .

Maka, sejatinya nikmat surga itu jauh dari apa yang dibayangkan manusia. Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berkata, “Aku telah siapkan bagi hambaKu yang shalih sesuatu yang belum dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terlintas pada hati manusia” (Muttafaqun ‘alaihi). Apakah kita hanya akan berpuas diri dengan mengejar satu rahmat Allah yang dibagi-bagi untuk seluruh penduduk dunia, sementara kita melalaikan 99 rahmat yang tersisa? Semoga kita termasuk dari sedikit orang yang berpikir. Amin

Related Posts: